Kamis, 15 Februari 2018


                  Nilai-nilai Keanekaragaman Hayati 


   Ada  5 lima nilai yang terkandung dalam keanekaragaman hayati. Yaitu, nilai ekologis, nilai komersial, nilai sosial budaya, nilai rekreasi dan  keindahan, nilai penelitian dan pendidikan.


 1. Nilai Ekologis 
      
     Setiap sumber daya alam adalah unsur ekosistem alam. Sebagai contoh, suatu tumbuhan dapat berfungsi sebagai pelindung tata air dan kesuburan tanah. Suatu jenis satwa juga dapat menjadi key species yang menjadi kunci keseimbangan alam. Efek cuaca yang tidak menentu, akan menyebabkan rumput tidak tumbuh optimal sehingga menimbulkan bencana bagi hewan pemakan rumput. Kalau hewan pemakan rumput mati, hewan pemakan daging pun ikut kehilangan makanannya. Terus begitu sampai mata rantai ekologis ikut punah.

 2. Nilai Komersial 

     Secara umum telah dipahami bahwa kehidupan manusia bergantung mutlak kepada sumber daya alam hayati. Dengan demikian, nilai komersialnya sangat tinggi. Nilai komersial juga berkaitan erat dengan keanekaragaman hayati sebagai sumber pangan. Indonesia mempunyai 400 jenis tanaman penghasil buah, 370 jenis tanaman penghasil sayuran, 70 jenis tanaman berumbi, 60 jenis tanaman penyegar, 55 jenis tanaman rempah-rempah.
      Selain makanan utama, masyarakat Indonesia menyukai makanan suplemen seperti oncom, tempe, kecap, tape, dan gatot. Beberapa jenis tanaman seperti suji, secang, kunir, gula aren, merang padi, dan pandan banyak digunakan sebagai zat pewarna makanan.

3. Nilai Sosial dan Budaya 
 
    Keanekaragaman hayati mempunyai nilai sosial dan budaya yang sangat besar. Suku-suku pedalaman tidak dapat tinggal di perkotaan karena bagi mereka tempat tinggal adalah hutan dan isinya. Hal itu berkaitan erat dengan aspek kultural sumber daya hayati di Indonesia. Untuk itu, upaya yang serius dan lebih banyak masih tetap diharapkan. Jadi, tidak hanya dengan melindungi hewan atau tumbuhan endemis, tetapi juga dengan menyelamatkan ekosistem yang telah rusak dan lambat laun hilang.

   Indonesia mempunyai kurang lebih 350 etnis dengan keanekaragaman agama, kepercayaan, dan adat istiadat. Dalam upacara ritual keagamaan atau dalam upacara adat banyak sekali sumber daya hayati yang digunakan. Berikut beberapa contohnya:
    
   a) Umat Islam memerlukan sapi dan kambing jantan dewasa setiap hari raya Idul  Adha.
   b) Umat nasrani memerlukan pohon cemara setiap natal.
   c) Umat Hindu, untuk mengadakan ngaben, memerlukan 39 jenis tumbuhan. Dari 39 jenis        tersebut banyak yang tergolong penghasil minyak atsiri. Jenis lain, yaitu dadap, tubu hitam, dan   kelapa gading untuk menghayutkan abu ke sungai.

4. Nilai Rekreasi dan Keindahan 
    
    Keindahan sumber daya alam hayati dapat memberikan nilai untuk menjernihkan pikiran dan melahirkan gagasan-gagasan bagi yan menikmatinya. Oleh karena itu, kita sering kali pergi berlibur ke alam-misalnya ke gunung, gua, atau laut, hanya untuk merasakan keindahan alam, sehingga kita merasa kembali "berenergi" ketika kembali ke perkotaan dan melanjutkan rutinitas.
     Berbeda dengan masyarakat lainnya, masyarakat suku Dani di lembah Baliem, Irian Jaya, menggunakan lima macam tumbuhan sebagai bahan sandang. Keempat macam tumbuhan tersebut adalah:
     
     a) Agrostophyllum majus dan wen ( Ficus drupacea ) untuk membuat yokal ( pakaian 
          wanita yang sudah menikah ).
     b) Kem ( Eleocharis dulcis ) untuk membuat pakaian anak gadis.
     c) Sika ( Legenaria siceraria ) untuk membuat koteka/holim.
     d) Mul ( Calamus sp ) untuk membuat pakaian perang.
    
     Keanekaragaman hayati berfungsi sebagai sumber papan. Hampir semua rumah adat di Indonesia terbuat dari kayu sebagai bahan utamanya. 
 
5. Nilai Penelitian dan Pendidikan 

     Berkaitan dengan nilai penelitian, sumber daya hayati sangat berpotensi sebagai sumber obat dan kosmetik. Indonesia mempunyai 940 jenis tanaman obat, tetapi hanya 120 jenis yang termasuk dalam Materia Medika Indonesia. Berikut ini adalah beberapa tanaman obat, yang digunakan sebagai obat masyarakat suatu daerah di Indonesia.

 1. Masyarakat Jawa
     Masyarakat Jawa Barat mengenal 47 jenis tanaman untuk menjaga kesehatan ternak, terutama kambing dan domba. Diantara tanaman tersebut adalah bayam, temu lawak, dadap, kelor, lempuyang dan katuk. Sementara itu, masyarakat Jawa Timur dan Madura mengenal 57 macam jamu treadisional untuk ternak dengan menggunakan 44 jenis tanaman. Salah satunya yang paling banyak digunakan adalah tanaman marga Curcuma ( teuman-temuan ). 

 2. Masyarakat Sumbawa
     Masyarakat Sumbawa mengenal 7 jenis tanaman untuk ramuan minyak urat, yaitu akar salban, akar sawak, akar kesumang, batang malang, kayu sengketan, kayu sekeal dan kayu tulang.

3. Masyarakat Alar dan Pantar
    Kedua masyarakat ini mempunyai 45 jenis ramuan obat untuk kesehatan ternak. sebagai contohnya, kulit kayu nangka yang dicampur dengan air laut dapat dipakai untuk obat diare untuk kambing.

    Masyarakat Jawa juga mengenal ratus yang diramu dari 19 jenis tanaman sebagai pewangi pakaian dan ruangan, serta pelindung pakaian dari serangan mikroorganisme. Di samping semua itu, Indonesia juga mengenal 62 jenis tanaman sebagai bahan pewarna untuk semua keperluan, misalnya jambu hutan putih yang digunakan sebagai pewarna jala dan kayu malam sebagai cat cantik.